8 Etika Tak Tertulis ketika Berkunjung ke Masjid

Daftar Isi
7 Etika Tak Tertulis ketika Berkunjung ke Masjid

Ramadan merupakan bulan yang tepat untuk memperkuat ibadah dan kebersamaan keluarga. Di bulan ini, sebagai keluarga muslim, Ayah-Bunda pasti sering mengunjungi masjid untuk melaksanakan ibadah, minimal Salat Tarawih, bukan? Ayah-Bunda juga pasti tahu, bahwa ada etika atau aturan tak tertulis yang berlaku di masjid.

Selain supaya tercipta suasana kondusif, pemahaman akan etika juga penting untuk memberi contoh kepada anak-anak bagaimana berperilaku di masjid. Apa saja etika itu?

1. Jaga Aroma Tubuh

Syukur-syukur, kita memakai parfum sebelum berangkat, sehingga membuat nyaman siapapun di sekitar kita. Namun, yang paling minimal, kita dan anak-anak jangan sampai datang ke masjid dengan aroma tidak sedap. Misalnya, dengan bau:

  • badan: biasanya akibat belum mandi atau terlalu banyak berkeringat.
  • rambut: biasanya akibat belum keramas dalam beberapa hari.
  • kaki: biasanya akibat terlalu lama mengenakan sepatu atau kaki dalam keadaan basah.
  • mulut: biasanya akibat rokok atau belum menggosok gigi. Kalau dalam kondisi puasa, sih, apa boleh buat, napas kita memang cenderung bau. Maklum. Tetapi kalau sudah tahu begitu, mestinya kita jangan lebar-lebar juga saat membuka mulut, ya. Hehehe…

Beberapa masjid menerapkan area tanpa asap rokok (no smoking area). Pasalnya, merokok itu bukan urusan individu lagi, tetapi orang lain juga sering kena dampaknya.

Asap rokok bisa terbang ke mana-mana. Bahkan aroma rokok yang sudah mati, entah yang tersisa di mulut atau badan, biasanya juga akan menyebar tidak karuan di dalam ruangan ber-AC. Banyak jemaah yang ikut mencium racun nikotin dan menjadi perokok pasif. Kezaliman ini tentu bukan nilai Islam.

Jadi, bila Ayah-Bunda perokok, sebaiknya merokoknya sebelum berangkat saja, atau di halaman luar (outdoor) masjid yang jauh dari ruang utama. Atau lebih baik lagi: berhentilah merokok sekalian.

Napas berbau bawang saja dilarang masuk masjid, lo, oleh Nabi Muhammad! Dalam salah satu hadis, Rasulullah bersabda:

Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia salat di rumahnya, karena sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia.

~ HR Bukhari dalam kitab Adzan 854 dan Muslim dalam kitab Al-Masajid 564

Jadi, hati-hati, Ayah-Bunda. Semisal masjid mengadakan buka bersama dan menu-menu makanannya menggunakan bawang di sana-sini, jangan lupa, berkumur-kumurlah dahulu hingga aromanya hilang dari mulut kita.

Jangan sampai aroma itu keluar semua saat kita mengucapkan, “Aaaamiiiin….” di akhir bacaan Al-Fatihah imam.

2. Berbusanalah yang Layak

Kenakan pakaian yang sopan ketika memasuki masjid. Tidak harus berpakaian muslim, tetapi setidaknya semua aurat tertutup dan bahannya tidak menerawang atau ketat (full pressed body). Sebab, memang begitu harusnya seorang muslim/muslimah berbusana.

Kondisi pakaiannya sendiri juga harus diperhatikan, Ayah-Bunda. Jangan mengenakan pakaian yang lusuh, kotor, atau yang ada gambar/tulisan mencolok. Sebab, itu akan mengganggu konsentrasi jemaah lain yang salat di belakang kita.

Jangan berlindung di balik kalimat pembenar, “Kalau ia terganggu dengan pakaianku, berarti ia yang tidak khusyuk atau imannya lemah!”

Setiap kali terpikir mengenakan pakaian yang “aneh-aneh” begitu, selalu ingat bahwa ini adalah rumah Allah. Kita bertamu di rumah pejabat saja pasti mengenakan pakaian terbaik dan tidak berani “aneh-aneh”, bukan? Apalagi kita sedang bertamu ke rumah Allah, sang Penguasa Alam Semesta.

3. Berwudu, Berdoa, dan Salat Tahiatul Masjid

Sebisa mungkin, begitu datang, jangan langsung masuk ke ruang utama masjid. Sekalipun kita sudah wudu dari rumah (sebagaimana memang dianjurkan oleh Rasulullah), masuklah ke tempat wudu masjid untuk sekadar membersihkan kaki. Apalagi kalau belum berwudu, sebaiknya berwudu dahulu.

Ketika menginjakkan kaki di masjid untuk pertama kali, jangan lupa untuk mengucapkan doa masuk masjid: “A‌llahummaf-tahlii abwaaba rahmatika.” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).

Dan jika memang sempat, tunaikan Salat Tahiatul Masjid dua rakaat. Salat ini bertujuan untuk memuliakan masjid. Ibaratnya, dengan salat itu, kita kulo nuwun (minta permisi) kepada Yang Punya Rumah. Kan, tidak enak kalau datang ke rumah orang, tanpa permisi, tahu-tahu menongkrong dan mengobrol.

4. Ikut Memelihara Kebersihan Masjid

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Setiap anggota keluarga hendaknya turut serta menjaga kebersihan masjid. Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan hingga membantu membersihkan area yang telah digunakan.

Biasanya, di masjid ada makanan dan minuman gratis. Terutama saat Ramadan begini. Jangan mentang-mentang gratisan, lalu kita mengambil semaunya tanpa menghabiskannya. Setiap selesai makan atau minum, usahakan langsung habis, sehingga bungkusnya bisa langsung kita buang ke tempat sampah.

Jangan mengambil air minum dalam kemasan, lalu hanya menghabiskan separuhnya dan meninggalkannya di lantai masjid. Selain mubazir (hal yang dibenci Allah), gelas itu kalau tersenggol dan tumpah akan mengotori lantai masjid. Kalau air putih masih tidak ada dampak lanjutannya. Kalau kopi? Teh? Es buah?

Nah, ketika kita tidak sengaja menumpahkan sesuatu, misalnya makanan yang berbumbu, atau anak kita muntah ke lantai masjid, hendaknya kita langsung membersihkannya. Bukannya diam-diam kabur.

Kita bisa melakukannya dengan air dari tempat wudu, kemudian membasuhnya dengan tisu atau keset masjid sampai bersih.

Lebih baik lagi kalau kita melaporkan ke petugas kebersihan masjid dan meminjam alat pel. Terkadang, petugas itu akan bilang, “Biar saya saja. Enggak pa-pa.” Namun, kalau tidak pun, kita harus siap membersihkannya sendiri.

Sebab, itu kecerobohan keluarga kita. Kitalah yang harus membereskannya, tanpa perlu merepotkan atau membuat jijik orang lain.

5. Hindari Membuat Kegaduhan

Masjid adalah rumah Allah yang harus dihormati. Tempat untuk beribadah yang seharusnya tenang, khusyuk, dan kondusif bagi setiap jemaah. Menjaga sikap dan perilaku, seperti berbicara dengan suara lembut, tidak bersenda gurau berlebihan, tidak berbicara kasar, dan menghindari keributan merupakan bentuk penghargaan terhadap tempat suci ini.

Adalah hak kita untuk beribadah dalam masjid. Mau salat sunah, mengaji, berzikir, berselawat, boleh. Namun, hak kita juga dibatasi oleh hak-hak jemaah lain. Hargai hak mereka untuk khusyuk dan mendapatkan ketenangan juga.

  • Jika kita membaca Al-Qur’an, jangan mengeraskan bacaannya. Cukup dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh telinga sendiri.
  • Jangan bernyanyi-nyanyi (meskipun itu nyanyian religius), berzikir atau selawatan keras-keras di masjid, apalagi menggunakan mikrofon.

Saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beriktikaf di masjid, beliau mendengar para sahabat mengeraskan membaca Al-Qur’an. Lalu beliau membuka kain penutup dan bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya masing-masing kalian ini sedang bermunajat kepada Tuhan. Maka janganlah kalian saling mengganggu, jangan saling meninggikan (mengeraskan) bacaan (Al-Quran) atau dalam salat.

~ HR. Abu Dawud no. 1332, Ibnu Khuzaimah no. 1100 dan Ahmad no. 12219

Lihatlah, Ayah-Bunda, jika membaca dengan lantang Al-Qur’an (sebaik-baiknya bacaan) saja dilarang oleh Rasulullah, apalagi untuk bacaan-bacaan lain atau nyanyian-nyanyian? Ini yang melarang bukan kiai, ustaz, takmir masjid, atau presiden. Ini larangan langsung dari Rasulullah sendiri.

Satu lagi, sebelum tiba waktu salat berjemaah atau khutbah, non-aktifkan alat komunikasi. Matikan juga fitur azan otomatis dari aplikasi. Ketika kita berada di masjid, pusat dari kegiatan ibadah, tentu aplikasi pengingat waktu salat itu sudah kehilangan fungsinya, bukan? Bahkan cenderung mengganggu saat berbunyi.

6. Arahkan Anak-anak Kita

Anak-anak pun harus menjaga sikap selama di masjid. Fitrah anak memang bermain dan bersenang-senang. Namun, Ayah-Bunda juga perlu memberi pengarahan, bahwa masjid adalah rumah Allah.

Beberapa orang mengatakan, “Halah! Biarkan anak berlarian, berteriak-teriak, dan melakukan apapun di masjid. Kalau di masa kecilnya bersenang-senang di masjid, mereka akan tumbuh jadi pencinta masjid. Sebaliknya, kalau waktu bocah sudah trauma dan terkekang di masjid, mereka akan menjauh dari masjid saat dewasa.”

Hehehe, enggak gitu juga konsepnya….

Bagaimana kalau anak-anak berlarian di depan orang salat? Berdosa, lo! Dan, kalau anak-anak dibiarkan liar seperti itu, di mana fungsi kita sebagai orang tua? Di mana pendidikan dan pembelajarannya?

Mengajak anak ke kantor saja, kita pasti memberi pengertian dahulu, “Jangan begini, ya, Nak, di kantor Papa! Nanti Papa malu. Nanti bos Papa marah.” Nah, ini di tempat yang lebih mulia dan sakral dari kantor, masa anak boleh berbuat semaunya?

Barangkali masih ada yang tidak terima, “Nanti anak-anak jadi benci masjid kalau sering ditegur dan dibatasi?”

Ah, yang benar? Coba renungkan:

  1. Apakah kalau anak ditegur di kantor, “Hayo, jangan gaduh, ya!” mereka akan benci dan trauma dengan kantor? Sehingga, saat dewasa mereka takkan mau bekerja di kantor? Tidak masuk akal, bukan?
  2. Seberapa pentingkah keluarga kita dibanding (kekhusyukan ibadah) seisi masjid? Jangan egois dengan mengorbankan ketenangan jemaah lain, demi kesenangan anak-anak kita sendiri.
  3. Justru itulah saat yang tepat untuk membangkitkan rasa empati mereka, “Eits, enggak boleh berantem, ya. Ini masjid, lo. Rumah Allah. Bukan rumah kita. Enggak sopan ribut-ribut di sini. Lagian, itu lihat, ada orang salat, menyimak ceramah, mengaji. Sadarkah kalian menganggu mereka? Kalian sendiri kalau lagi serius belajar, terus tetangga ribut-ribut, apa enak?”

Bagaimanapun, untuk menegur anak-anak, tentu ada seninya. Harus dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, dan dengan alasan-alasan yang mudah mereka cerna. Sehingga, tanpa sakit hati atau trauma, anak akan sadar, disiplin, dan pandai menempatkan diri.

7. Gunakan Air Seperlunya

Air adalah pengeluaran besar dari setiap masjid. Bayangkan, mereka harus menyediakan air untuk puluhan, ratusan, bahkan ribuan jemaah setiap hari.

Pemakaiannya untuk wudu, buang air kecil, buang air besar, mandi, mengaliri lantai wudu secara nonstop agar tanah dan debu-debunya tidak mengendap, mengepel lantai, membersihkan setiap bagian, dan sebagainya.

Masjid telah menganggarkan itu. Namun, kita juga jangan mubazir. Gunakan air seperlunya, agar tagihannya tidak boros. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi keuangan sebuah masjid. Lagi pula, berhemat selalu lebih baik daripada bersikap berlebih-lebihan dan mubazir.

8. Berinfak

Masjid memerlukan dana untuk beroperasi. Ada tagihan listrik, air, PBB, perawatan peranti-peranti elektronik, pembangunan fisik, penyediaan makanan, air minum, gaji/honor takmir dan petugas-petugasnya, khatib, muazin, imam, guru mengaji, dan lain-lain.

Dari mana mereka mendapat uang untuk semua itu kalau bukan dari donatur seperti kita? Makanya, sisihkan sedikit uang (banyak juga boleh, hehehe) untuk dimasukkan di kotak infak. Atau zaman sekarang, donasi bisa juga melalui transfer dan QRIS. Tinggal cari saja nomor rekening atau kode QRIS-nya.

Kita perlu mendukung masjid-masjid agar terus “hidup” dan berkegiatan.

Penutup

Aturan di Masjid Al-Hidayah

Itulah delapan etika tak tertulis masjid. Dengan menjunjung tinggi dan menerapkan kedelapannya saat di masjid, Ayah-Bunda sama dengan sedang menanamkan nilai-nilai keislaman yang penting bagi tumbuh kembang anak.

Di luar kedelapan itu, tentu masih ada etika-etika yang spesifik dibuat oleh masjid tertentu. Terkadang, aturan itu terpampang dengan jelas di sudut masjid tertentu. Contohnya, Tata Tertib di Masjid Al Hidayah seperti gambar di atas.

Bagaimanapun, takkan ada sanksi atau denda jika kita melanggar etika-etika ini. Paling apes, kita mendapat teguran lisan dari sesama jemaah atau takmir. Begitulah etika. Tidak sesaklek hukum atau aturan. Namun, harusnya kita semua memahami dan menjalankannya demi kebaikan bersama.