Menikmati Suasana Jawa di Masjid Agung Blitar

Daftar Isi
 Menikmati Suasana Jawa di Masjid Agung Blitar 

Kota kelahiran Bung Karno punya masjid kebanggaan dan pusat kegiatan masyarakat. Masjid Agung Blitar, namanya. Kami menunaikan salat Magrib dan Isya di masjid berkapasitas sekitar 5.000 jemaah ini. Yayah bahkan sempat menunaikan salat Jumat di sana.

Suasana tradisionalnya benar-benar kentara. Ayah-Bunda penasaran seperti apa Masjid Agung Blitar ini?

Sejarah Masjid Agung Blitar

Sejarah Masjid Agung Blitar

Masjid Agung Blitar dibangun pertama di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, sekitar satu kilometer dari lokasi sekarang. Pembangunannya pun bertahap.

Tahap pertama adalah tahun 1820. Saat itu, Kabupaten Blitar masih beribu kota di Srengat. Bangunannya masih sederhana, dengan dinding terbuat dari kayu jati dan atap dari sirap.

Dengan bentuk dan material yang sederhana itu, masjid tersebut mampu bertahan selama beberapa tahun. Lalu, Gunung Kelud meletus. Masjid yang berada di pinggir sungai itu pun diterjang banjir lahar dingin tiga kali, yaitu pada 1826, 1835, dan 1848.

Akibat terjangan banjir yang ketiga, masjid mengalami kerusakan yang cukup parah. Bencana itu bahkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah setempat untuk mempertimbangkan ulang kelayakan Srengat sebagai ibu kota Blitar.

Singkat cerita, pusat pemerintahan Blitar dan masjid agungnya dipindahkan ke tempat yang sekarang. Ketika itu, Bupati Blitar dijabat oleh Raden Mas Aryo Ronggo Hadinegoro, sedangkan penghulu yang merangkap tetua Masjid Jami-nya Kyai Raden Kamaludin, keturunan Kyai Kasiman, penghulu Srengat.

Pada 1890, penghulu Blitar yang saat itu dijabat oleh Kyai Imam Boerhan, menggagas bangunan masjid berbahan batu bata. Atas persetujuan bupati Blitar kala itu, R. Adipati Warso Koesoemo, dimulailah tahap ketiga pembangunan Masjid Agung Blitar yang dilakukan secara gotong royong.

Pasca pembangunan ketiganya, Masjid Agung Blitar pernah mengalami beberapa renovasi. Pada 1927, dibuat gapura. Setahun kemudian, dibangun menara di sebelah kanan (selatan) masjid.

Pada 1933, masjid diperluas dengan penambahan serambi di kanan dan kirinya. Arsiteknya KH. Muchsin Dawuhan, kerabat Penghulu Imam Boerhan. Desain tersebut masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian dalam masjid.

Sayang, gapura dan menaranya telah runtuh akibat gempa bumi yang terjadi pada 20 Oktober 1958.

Selanjutnya, pada 1966, H.M. Bachri Pakunden, salah satu keturunan Kyai Imam Boerhan, berinisiatif membangun kembali menara yang rusak. Keinginan tersebut baru dapat direalisasikan mulai 10 Agustus 1967, tetapi lokasinya bergeser ke sebelah utara.

Arsitektur Masjid Agung Blitar

Arsitektur Masjid Agung Blitar

Meski beberapa kali direnovasi, ada bagian masjid yang masih bertahan hingga sekarang dan menjadi ciri khas Masjid Agung Kota Blitar. Apa itu? Pilar atau saka kayu yang berada di dalam masjid.

Pilar-pilar itu berjumlah 16 dan merupakan simbol kuatnya suatu negara atau daerah. Empat pilar berada di tengah masjid, dan 12 pilar lainnya mengelilingi empat pilar yang berada di tengah masjid.

Keempat pilar kayu di tengah merupakan simbol Khulafaur Rasyidin, yaitu empat orang khalifah yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah beliau wafat. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Sedang 12 pilar lainnya menggambarkan Wali Songo dan tiga simbol kekuasaan atau umara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Simbol itu bermakna bahwa jika ulama dan umara jadi satu, maka masyarakatnya akan sejahtera. Sebaliknya, kalau ulama dan umara tidak bersatu, rakyatnya akan sengsara.

Keenam belas pilar kayu itu terbuat dari kayu gelondongan atau batang kayu utuh dari kayu jati, yang diambil dari wilayah Blitar selatan dengan cara dipikul.

Selain pilar, elemen bangunan lainnya yang mencirikan bangunan lawas adalah pintu dan jendela yang berpotongan tinggi dan lebar.

Terdapat sembilan pintu di masjid ini. Lima di depan dan empat di samping kanan dan kiri masjid. Sedangkan jendelanya ada 10. Empat di depan, enam di kanan dan kiri masjid.

Fasilitas dan Kegiatan di Masjid Agung Blitar

Sama seperti masjid-masjid lainnya, Masjid Agung Blitar juga menyediakan tempat salat bagi jemaah laki-laki dan perempuan beserta tempat wudu dan toiletnya masing-masing. Tersedia juga perlengkapan salat di dalam masjid.

Namun, kami tidak menemukan tempat minuman apapun di masjid ini. Entah memang tidak disediakan, entah disediakan pada hari-hari tertentu saja. Namun, jangan khawatir. Karena berlokasi di Alun-alun Blitar, banyak penjual makanan dan minuman di dekat masjid. Apalagi kalau malam hari, ramai sekali!

Terlebih saat Bulan Ramadan. Masjid Agung Blitar menggelar sejumlah kegiatan rutin seperti kuliah subuh, pengajian menjelang buka puasa, dan salat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah salat witir tiga rakaat. Selama Bulan Ramadan juga, tiap Jumat digelar pengajian Al-Qur’an mulai pagi sampai menjelang buka puasa.

Tidak ketinggalan, buka bersama di masjid. Masjid Agung Blitar menyediakan buka puasa gratis setiap hari selama bulan puasa sebanyak rata-rata 300 porsi per hari.

Di bulan-bulan biasa, Masjid Agung Blitar juga aktif mengadakan berbagai kegiatan keagamaan, di antaranya pengajian kuliah subuh setelah salat Subuh, pengajian Ahad Wage dan Ahad Kliwon.

Ya, suasana tradisional dan kejawen masih terasa kental di sini. Apalagi di sini juga terdapat beduk dan pilar-pilar kayu jati tadi. Itu menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya, kalau Ayah-Bunda datang dengan kendaraan sendiri, Masjid Agung Blitar tidak menyediakan tempat parkir khusus. Jadi kalau mau parkir, tempatnya di pinggir jalan. Baik untuk mobil maupun sepeda motor.

Masjid Agung Blitar

  • Alamat: Jalan Masjid 13, Keluarahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur 66117 (Google Maps)
  • Jam operasional: 24 jam
  • Kapasitas: ± 5.000 jemaah
  • Luas area: 1.500 m²
  • Luas bangunan: 2.000 m² (dua lantai)