Alhamdulillah, Ara Menang Lomba Baca Puisi Prancis

Daftar Isi
Alhamdulillah, Ara Menang Lomba Baca Puisi Prancis

Bulan Maret, bulan Frankofoni. Seperti tahun sebelumnya, IFI (Pusat Kebudayaan Prancis di Indonesia) kembali menghelat Semaine de la francophonie atau Pekan Frankofoni dengan tema "Prenez la parole" (Suarakan Suaramu). Tujuan diadakan pekan ini sendiri adalah untuk memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Prancis.

Frankofoni adalah individu atau komunitas berbahasa Prancis. Indonesia sebenarnya bukan negara frankofon. Namun, berhubung banyak sekali penutur bahasa Prancis di sini, maka negara kita juga turut merayakan Pekan Frankofoni. Termasuk Ara, yang belum bisa berbahasa Prancis.

Sempat Urung Ikut Lomba di Pekan Frankofoni 2025 IFI Surabaya

Sempat Urung Ikut Lomba di Pekan Frankofoni 2025 IFI Surabaya

Salah satu dari rangkaian acara di Pekan Frankofoni yang diadakan IFI Surabaya adalah lomba video membaca puisi. Pesertanya terdiri dari kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa.

Kebetulan, Ara, saat ini sedang suka menulis puisi. Ketika tahu IFI Surabaya mengadakan lomba video membaca puisi, sudah bisa ditebak bagaimana reaksinya.

Apalagi tahun lalu, ia juga mengikuti lomba video tentang olahraga favorit. Meski belum bisa berbahasa Prancis, Ara begitu bersemangat mengikutinya dan ternyata mendapatkan hadiah hiburan. Ketagihanlah ia!

Pada 2025 ini, selain lomba video, ada juga lomba dikte. Lalu, ada pertunjukkan teater dan pemutaran film Afrika, demo kuliner Prancis, serta buka bersama.

Awalnya, Bunda yang melihat pengumuman lomba ini di akun Instagram @ifi_surabaya. Bunda langsung mengunduh persyaratannya tanpa mempelajarinya terlebih dahulu.

Ketika kami dalam perjalanan kereta menuju Blitar, Bunda mendadak ingat lomba ini dan langsung memberitahu Yayah dan Ara. Baru di sanalah kami membaca persyaratannya secara runut dan detail. Oh là là, ternyata, lomba puisi itu untuk anak 15 tahun ke atas!

Pikir kami, ya, sudahlah, tidak usah ikut. Toh, waktunya hanya dua minggu dan rasanya itu tidak cukup waktu bagi Ara untuk mempelajari puisi dan melafalkan kata-katanya.

Nah, tetapi beberapa hari kemudian, Ara memberitahu kami bahwa lombanya ternyata bisa diikuti anak-anak. Kami pun mengecek postingan dan persyaratan terbaru lomba di IG IFI. Benar, di sana ada pos lebih baru yang menegaskan bahwa lombanya bisa diikuti oleh anak SD.

Pilihan puisinya tetap tiga. Untuk peserta dewasa, judulnya Demain, des l'aube karya Victor Hugo. Untuk peserta remaja, judulnya Chanson d'automne karya Paul Verlaine. Sedangkan untuk peserta anak-anak, puisinya karya pernyair Belgia, Maurice Carême:

LE CHAT ET LE SOLEIL

Le chat ouvrit les yeux
Le soleil y entra
Le chat ferma les yeux
Le soleil y resta
Voilà pourquoi, le soir
Quand le chat se réveille
J’aperçois dans le noir
Deux morceaux de soleil.

Akhirnya Maju Ikut Lomba Juga, tetapi Salah Kategori

Akhirnya Maju Ikut Lomba Juga, tetapi Salah Kategori

Puisi Le chat et le soleil sebetulnya mudah sekali dipahami. Namun, bagi Ara yang belum bisa berbahasa Prancis, tentu tidak mudah membacanya. Sebuah beban baginya. Apalagi kriteria penilaian juri mencakup kejelasan pelafalan, ekspresi dan penghayatan, kreativitas penyampaian, serta sentuhan artistik video.

Butuh waktu baginya untuk mengejar itu semua. Meskipun untuk editing video, Yayah yang mengerjakannya.

Waktu yang hanya seminggu dari tenggat itu terpotong karena Ara harus sekolah dan sakit panas demam selama dua hari. Kami berempat juga terserang batuk dan flu. Waduh!

Namun, untunglah dua hari sebelum tenggat (17 Maret), kondisi Ara dan Yayah sudah membaik, sehingga pembuatan video Ara bisa dilakukan. Kami pun melatih Ara semampunya untuk menampilkan puisi itu.

Pembuatan video selesai, saatnya mengedit. Video Ara sederhana saja, tidak banyak efek atau suara latar tertentu. Daripada tersandung masalah hak cipta, kami memilih main aman saja dengan tidak menggunakan suara atau visual yang macam-macam. Minimalis saja! Yang penting videonya jelas.

Nah, setelah proses editing selesai, sebelum mengunggah videonya, kami menonton video-video peserta lainnya. Semuanya bagus. Kami juga baru tahu ada beberapa peserta yang membacakan puisinya dalam bahasa Indonesia.

Kami pun membaca ulang persyaratannya. Entah bagaimana kami bisa melewatkan salah satu poin penting, bahwa puisinya bisa dibacakan versi bahasa Indonesia untuk Kategori Non-Frankofon!

Mengingat level kemahiran berbahasa Prancis Ara, seharusnya Ara ikut level ini. Namun, video sudah terlanjur dibuat dan tenggatnya sudah mepet. Apa boleh buat! Lagi pula, apa serunya lomba baca puisi frankofoni kalau pakai bahasa Indonesia?

“Maju aja terus!” saran Yayah kepada Ara. “Kalau kalah, wajar. Kalau menang, berarti kamu layak disebut bocil Frankofoni. Hehehe.”

Secara Mengejutkan, Terpilih sebagai Juara Dua

Secara Mengejutkan, Terpilih sebagai Juara Dua

Tanggal 20 Maret kemarin, meleset satu hari dari rencana awalnya, IFI Surabaya mengumumkan pemenang lomba ini. Ara meraih juara kedua untuk Kategori Frankofoni. Alhamdulillah!

Kami terkejut, tetapi juga senang dan bangga. Soalnya, para pesaing Ara bagus-bagus. Terlihat kalau mereka memang menguasai, minimal dasar-dasar bahasa Prancis. Waduh, beruntung sekali Ara.

Pada 22 Maret 2025, kami pun hadir di acara penyerahan hadiah. Gila! Di sana, rasanya semua orang bisa berbicara bahasa Prancis, meskipun didominasi tampang-tampang Indonesia. Pembawa acaranya pun lebih sering berbicara dalam bahasa Prancis. Ara, apalagi Kira, hanya bisa melongo.

Untungnya, semua berjalan lancar. Ara naik panggung dan menerima hadiahnya dalam seremoni resmi.

Setibanya di rumah, kami membongkar hadiah-hadiah yang Ara dapatkan. Ada paket kosmetik L’Oreal, sticky notes yang lucu-lucu, kipas tangan, brosur, gantungan kunci, kartu pos, pensil warna, sertifikat, dan yang paling menggembirakan: voucer keanggotaan gratis di IFI Surabaya selama setahun!

Kami sebenarnya tidak memaksakan Ara yang masih SD untuk mempelajari bahasa Prancis. Kami ingin ia melancarkan bahasa Indonesianya sampai tingkat mahir (untuk usianya), sambil sedikit-sedikit belajar bahasa Inggris. Setelah itu, mungkin saat SMP atau SMA, ia baru kami “jejali” dengan bahasa Prancis.

Namun, dengan dua kali mendapat penghargaan di lomba IFI Surabaya, sepertinya rencana itu berubah. Mungkin ini isyarat atau PR bagi Ara, agar segera serius belajar bahasa Prancis. Siapa tahu, rezekinya memang di sini.

Sertifikat dan voucer